CPNS 2017 – SKB Kemenperin

*This post will be useful for future readers who are going to face SKB Kemenperin

Selang seminggu dari SKD CAT, aku selalu menyempatkan diri untuk mengecek website Kemenperin. Nihil. Sampai pada suatu Jumat aku lihat halaman rekruitmennya berubah polos kosong. Kupikir, “wah kayaknya udah mau di-upload nih pengumuman baru.”

Keesokan harinya, seperti biasa aku langsung cek henpon ketika bangun tidurteehee crazy rabbit . Kudapati beberapa alumni menyelamatiku di Whatsapp, “Selamat ya Rai semoga sukses!”

“Huh memang ada apa ya?” aku masih belum melek betul. Kulihat mereka menyertakan tautan pdf di chat-nya. Ternyata sudah keluar pengumuman peserta yang lolos SKD—dan aku termasuk ke dalam 712 orang yang lolos!  happiness crazy rabbitUnbelievable! Lucu sekali aku tau kabar ini malah dari orang lain. Ternyata mereka sudah tau dari grup Whatsapp regional masing-masing. Pengumumannya sempat di-upload di website Kemenperin, tapi entah kenapa dihapus lagi. Untung saja aku dikasih tau loh berhubung aku nggak gabung grup Whatsapp CPNS.

Sabtu pagi itu aku merasa senang dan bangga. Baru saja Jumat kemarin aku merasa low sekali dalam hidup sad. I used to keep the flame in myself no matter how shitty my life is and how pessimistic I am. But strangely at that time I was no longer passionate or care of my dreams. Maka kabar kelulusanku ini membuatku hidup lagi. Life is strange isn’t it? That something you’ve never cared before in your whole life suddenly able to cheer you up.

Selain itu aku turut merasa cemas. Aku kebagian tes Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) tanggal 16 November yang mana adalah Kamis minggu depan. Aku tidak antisipasi bakal lanjut, dan nggak ada bayangan sama sekali SKB kayak gimana (apalagi SKB Kemenperin, nggak nemu tulisan orang di Google). Dalam waktu 6 hari yang bagiku terbilang singkat, aku harus persiapan apa? worried

I think I barely prepared for the day though. Ada suatu perasaan rileks yang aneh. Mungkin karena aku nggak perlu konsen belajar seperti sebelumnya. Mungkin karena persentase ujiannya: psikotes 60%, wawancara 40%. Aku nggak begitu takut mengenai psikotes karena sudah sering ngerjain di perusahaan, paling sih aku coba latihan gambar aja. Namun mendekati hari H aku malah makin cemas memikirkan wawancara. Apa bakal ditanya materi kimia? Apa bakal dikasih pertanyaan nyelekit? Siapa yang bakal jadi interviewer? My social anxiety really kicked in nail biting. Aku sungguh bingung mau persiapan apa. Berhari-hari aku sibuk bertukar info sama kawan-kawan alumni angkatanku yang juga lolos SKD (kebetulan kita bertiga dulu sekelas di kampus dan milih formasi yang beda di Kemenperin). Kita bertiga sudah pasrah aja deh bakal kayak gimana nantinya.

Hari H pun datang.

Aku selalu menghindari kampus setelah wisuda. Aku benci kembali ke sana. Sayangnya, kampusku dipakai buat tempat validasi dokumen dan SKB peserta Kemenperin regional kota Bogor. Lol, how ironic. Aku sudah kembali ke sini dua kali—melakukan sesuatu yang dulu aku hindari di tempat yang selalu aku hindari. Bahkan hari itu aku pakai baju yang sama dengan baju yang kukenakan waktu sidang—rasanya kayak sidang ulang sigh—mencolok pake baju hitam putih di antara mahasiswa-i. I also wore the same weary heart. Aku nggak bisa tidur malam sebelumnya—tidurku kurang dari dua jam. Aku sangat khawatir nggak bisa konsen sama psikotes karena kurang tidur. Sempet berpikir apa lebih baik aku mundur saja dan lupakan ini saking kalutnya. Good thing pagi harinya aku nggak gitu ngerasa ngantuk, cuma merasa agak berat aja kepala. I thought I’d be able to keep up till 5 am. yawn

Oia SKB ini dijadwalkan dari pukul 8 pagi sampai jam 5 sore, tapi harus sudah datang 1 jam sebelumnya. Aku datang jam 7.20 dan nggak kenapa-kenapa sih, ada yang lebih telat dari aku juga. Ketika datang aku duduk dahulu di kursi yang disediakan (acaranya di lantai 3, napas dulu lah habis naik tangga), persis waktu validasi. Nggak lama aku duduk, beberapa orang disuruh maju untuk mengisi absen di meja panitia. Total peserta ada 34, tapi 2 orang tidak hadir. Setelah semua selesai, para peserta diminta untuk menaruh tas di lab bahasa—hanya diperkenankan bawa alat tulis, KTP, dan Kartu Peserta.

Kami lalu dipersilakan masuk ruang ujian dan duduk di meja sesuai nomor absen. Karena psikotes berlangsung di lab komputer, meja yang dipakai pun meja berlaci (yang sebenarnya nggak nyaman banget karena kaki jadi nggak bebas bergerak). Untung saja panitia nggak protes waktu kita bukain pintu lacinya dan masukin kaki ke dalam sana blush crazy rabbit. Papan berjalan dan juga pensil sudah disediakan panitia di atas meja. SKB dibuka oleh bapak direktur kampusku yang membacakan surat dari Kemenperin. Selanjutnya para psikolog (bukan parapsikolog ya! tongue) dari UI memberikan arahan. Salah satu yang paling kuingat sih, “Jangan percaya sumber mana pun yang ngasih tau ‘begini caranya supaya diterima.’. Kalian lupakan apa kata orang—di sini kalian mengerjakan sesuai arahan kami.”

Psikotes dimulai jam 8 lebih. Berikut rangkaiannya:

  1. Pengisian form data diri (cuma 2 lembar). Kayak form yang diisi kalau lagi interview kerja sih.
  2. Tes IQ (kalau nggak salah) yang isinya memilih pola/gambar sesuai perintah dalam waktu singkat.
  3. Tes menggambar di 6 kotak. Aku nggak tau namanya apa, yang jelas dari dulu aku nggak suka tes ini hahaha. Terdapat 6 kotak yang di dalamnya sudah ada ‘coretan’ dan kamu diminta untuk meneruskannya jadi gambar. Setiap gambar yang kamu selesaikan diberi nomor 1-6 sesuai urutan ngerjainnya. Setelah itu kamu disuruh pilih mana yang paling kamu sukai (+), paling nggak disukai (-), paling susah (S), paling mudah (M); juga tak lupa kamu tuliskan judul tiap gambar.
  4. Tree test. Ini sih popular banget ya, tapi aku malah belum pernah ngerjain ini dan tes 6 kotak di interview kerja. Kamu diminta menggambar pohon (pohon berkayu, dikotil, bukan tanaman berbunga, dll) lalu kamu disuruh menuliskan nama pohon itu. Aku sih gambar pohon ara (sycamore tree) dengan seorang gadis di bawahnya yang sedang asyik baca buku, hehe.
  5. Tes Koran (Kraeplin-Pauli), tes yang paling menegangkan dan menguras tenaga karena nggak bisa tarik napas barang sebentar. Membutuhkan konsentrasi sangat tinggi, kecermatan, dan kelincahan (hwaduh whew!). Kemarin sih ngerjainnya hampir full selebar lembar koran (cuma disisain 2 baris sama panitia). Cek Google aja kalau mau tau kayak gimana.
  6. Tes PAPI. Akhirnya tes yang nggak menguras otak hehe. Jadi dalam tes ini kamu diminta memilih mana yang paling menggambarkan kamu dari dua pilihan yang ada. Kemarin sih cuma dikasih 90 soal. Ini terbilang sangat sedikit karena aslinya bisa sampai 200-an soal loh, mana ngulang-ngulang pilihannya malesin banget. Yang kemarin kukerjain sepertinya memang versi ringkas—sudah dihilangkan pilihan-pilihan yang merujuk pada tendensi kepribadian yang nggak gitu penting (kemarin nggak ada pilihan yang nyangkut seks soalnya laughing)
  7. Kuisioner. Aku juga benci yang beginian no talking. Sejumlah pertanyaan-pertanyaan personal yang dijawab pakai uraian.

Sudah selesai deh psikotesnya. Peserta kemudian dibagi menjadi 4 kelompok untuk Focus Group Discussion (FGD) sesuai nomor absen. Aku kebagian dengan anak-anak lulusan D3 semua. Kita ditempatkan pada kursi yang sudah ditaruh melingkar supaya diskusi lebih enak. Materi FGD tentang 16 permasalahan di Indonesia yang harus kami urutkan mulai dari yang paling urgent. Awalnya kami disuruh mengerjakan sendiri-sendiri dahulu selama 5-10 menit (I really screwed up, couldn’t think wisely for a short moment nail biting), baru dibahas bersama-sama. Jadi hasilnya akan ada dua kolom, S (sendiri) dan K (kelompok). Aku berusaha mengeluarkan ide dan argumen terbaikku untuk membayar kekacauan yang kulakukan saat ngurutin sendiri. Good thing they accepted my ideas very well. I’m lucky I had a decent group who were smart and listened to each other (nggak pasif ataupun agresif). FGD ini berlangsung dalam pengawasan psikolog.

Sehabis itu kami diberi waktu isoma. Makannya nasi padang enak loooh love food crazy rabbit, tapi aku nggak selera makan di saat-saat seperti ini, jadi aku cuma makan sedikit dan bawa pulang sisanya. Sesi wawancara yang seharusnya dimulai jam 1 pun ngaret sampai ke jam setengah 2, memberikan kami banyak waktu buat santai-tegang dan mengobrol dengan peserta lainnya. Suasana lebih cair setelah FGD karena sudah saling kenal teman satu kelompok. Overall they were really nice and friendly people! Mungkin karena hampir semua peserta lulusan kampus aku atau IPB D3 yang punya major sama jadi lebih terasa persaudaraannya hehehe. love you crazy rabbit

Pada jam setengah 2 salah satu panitia memanggil sekelompok nama—termasuk aku. Aku jadi deg-degan banget, tapi sudah parah bakal ditanya apa dalam ruangan. Sesi wawancara dilakukan per kloter, satu kloter kayaknya ada 4 nama deh. Pewawancara dari pihak Kemenperin (bukan psikolog) dan pertanyaan yang diajukan ditampilkan di layar komputer, jadi nanyanya agak kaku macam ikutin SOP hahaha. Pertanyaannya standar semua sih—nggak ada soal teori kimia atau pun sejarah macam TWK. Namun pertanyaan berikut ini sangat di luar dugaan:

  1. Apa itu revolusi mental?
  2. Apa itu reformasi birokrasi?
  3. Apa visi misi Kemenperin?

(Coba kalian googling deh arti revolusi mental rolling on the floor)

Aku kebingungan jawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Makin ngeri lagi karena si bapak penanya ngulang 3 pertanyaan itu di akhir interview (kayaknya jawabanku kurang memuaskanlaughing) .

Aku tampaknya orang pertama yang selesai interview. Ketika aku keluar ruangan, peserta lain yang masih nunggu bersorak ngecengin aku (aku cuma bisa cengok rolling on the floor) pokoknya setiap ada yang masuk maupun keluar pasti disemangatin deh kocak. Aku nggak langsung pulang sehabis itu, asyik ketawa-ketiwi dengan beberapa orang kelompok FDG-ku sampai jam setengah 4 (karena nunggu hujan reda juga sih). Kita berempat mengobrol selayaknya teman lama duh siapa yang nyangka suasana SKB bakal seakrab ini? dance with me crazy rabbit

IMG_20171116_155226_109

I really couldn’t tell if I did well or not. Sampai hari ini (28 November 2017) belum juga ada pengumuman dari Kemenperin. Seharusnya tanggal 24 sudah keluar hasilnya, tapi diundur karena belum beres mengolah nilai peserta. Maklum sih terakhir SKB aja tanggal 18 di Jakarta (banyak pula ada 90-an orang) kayaknya ngga mungkin juga hari Jumat depannya sudah selesai.

Well, kuharap tulisanku bisa ngasih gambaran kayak gimana SKB di Kemenperin bagi kamu-kamu pejuang CPNS Kemenperin yang kebingungan. Maaf kalau kepanjangan ya thanks for reading! big grin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s