Indonesia International Book Fair 2017: The Longest Journey

preview

*Beware, very long post!

Hola guys gurls! Sudah lama nggak jumpa lewat postinganku nih! Hehehe. big grin

Sebenarnya banyak banget hal yang pengen kutulis di blog. Namun karena satu dan lain hal aku belum bisa nulis sesuatu yang baru. We’ll talk about it on later posts, kay? sad

Nah, buat sekarang lebih baik aku cerita dulu yang masih anget nih!

Yup, kemarin ini aku baru saja pergi ke IIBF for the third time! Wohoo! Aku sudah menantikan acara ini dari awal tahun loh! Terbayang selalu keasikan berburu buku murah dan mengaduk-aduk tumpukan buku bekas di tahun kemarin. blush crazy rabbit

Sayangnya kali ini aku tidak pergi dengan mas favoritku karena doi sedang tidak di jabodetabek. Maka aku pun pergi dengan one of my bffs Stik yang sangat kegirangan karena belum pernah mengunjungi IIBF. dance with me crazy rabbit

Setelah gonta-ganti rencana, kita akhirnya berangkat di hari Jumat—sekitar 10 kurang dari Bogor. Karena aku sudah pernah ke sana, perjalanan pun mengikuti arahanku yakni turun di stasiun Cawang (yang paling dekat dari Bogor dibanding pilihan acara lalu lanjut naik TransJakarta—kira-kira tidak sampai setengah jam lah.

Unfortunately, turned out it wasn’t our lucky day.

The road was so damn packed around Cawang Station. Macet super parah karena sedang ada pembangunan flyover. Untung aja kita kebagian duduk. Lapar pulak duhhh kan nggak boleh makan dalam TJ  jadi tersiksa aku. sad

Harusnya kita sampai jam 11.30 tapi kita baru sampai jam 12.30 zzz—molor satu jam dari waktu seharusnya.

Namun kita tak bisa lama-lama bete! We were too excited to think about what just happened. Begitu masuk kita langsung alay ber-wefi ria di depan dekor robot rustic berbentuk huruf “IIBF”. batting eyelashes20170908_122931

Selain dekor tersebut, di dekat jalan masuk terdapat kios dari KPK (kukira mereka cuma nongol tahun kemarin aja) yang sangat mengundang pengunjung. Anehnya nggak ada kios main guest country di bagian ini. Kayaknya sih tahun ini memang nggak ada tamu utama dari negara lain, sebab kalau ada harusnya mereka punya kios besar di tempat yang menarik perhatian.

20170908_123424

“Berani jujur hebat!”

 

Hal aneh lain yang kusadari adalah soal beberapa kios yang terkesan ‘nanggung’—kayak mau-nggak-mau mengisi tempat di IIBF. Kubilang demikian karena kios mereka kelihatan kosong banget—dalam artian eweuh nanaon di kios-nya; dan penjaganya pun nggak ada di tempat. Ini terutama terlihat di kios punya negara lain. Jadi deh aku dan temanku sibuk ngambilin brosur, kalender, katalog—apa aja yang ada di meja mereka tanpa perlu basa-basi atau isi form dulu hihihi.teehee crazy rabbit

Habis itu kita mampir di salah satu tempat jualannya Mizan— penerbit yang menyisakan jejak trauma di ingatanku hiks. kill crazy rabbit

20170908_124932

Duileh romantis bener Dilan dah kayak ikutan Katakan Cinta aja

Keliatan jelas di kios ini kalau Mizan lagi promo film Dilan yang mau tayang dan juga bukunya Dan Brown berjudul Original yang sudah nerima pre-order. Habis itu kita pergi ke tempat jualan Gramedia atau Kompas yah (aku kurang inget). Entahlah, aku nggak begitu perhatiin buku-buku mereka karena sudah sering liat di toko Gramedia dan nggak ada yang lagi kuincar.

Sehabis itu kita muter sana-sini sampai beberapa kali kepisah hahaha. Exhibitor tahun ini nggak beda jauh dengan tahun lalu: ada Mizan, Gramedia, Kompas, Republika, Bumi Aksara, Trubus, Tiga Serangkai, Bobo, University Press, kios promosi kampus dan bookfair luar negeri, kios punya IKAPI beberapa propinsi, kios punya negara lain (Mesir, Malaysia, dll), kios komunitas, buku anak, buku agama, buku pelajaran; ada juga yang jualan mainan dan stationary, dll dll. Hampir semua barang dijual lumayan murah, atau setidaknya dikenai diskon. Ini termasuk buku-buku keluaran baru loh!

Oia, tanpa disangka aku berjumpa dengan mainan masa kecilku di sini! Mainan bernama Lasy yang muncul jauh sebelum ada Lego. Kira-kira kayak lego sih mainnya, tapi lebih besar ukurannya. Anehnya namanya di sini kok bukan Lasy yah? Tulisannya juga kayak tulisan Jepang/Cina, padahal kata adikku ini mainan buatan Finlandia. Jangan-jangan ini hasil jip… ah sudahlah. Sayangnya, tiga orang yang jaga kios menarik ini semuanya asik main hengpon (dan kayaknya foreigner semua) jadi aku sungkan buat nanya-nanya deh hehehe.

20170908_130742

Mainan buat melatih kecerdasan motorik anak!

Setelah mencari-cari sampai ke ujung, akhirnya aku menemukan kios favoritku: Sabana used books! happiness crazy rabbit

20170908_154347

Photobombed by my fat thumb

Kios ini khusus jual macam-macam buku bekas dengan harga yang bervariasi, tergantung kondisi buku. Mostly yang dijual adalah buku berbahasa asing (bahkan aku menemukan buku Ronggeng Dukuh Paruknya Pak Ahmad Tohari yang sudah diterjemahkan ke bahasa inggris) baik bahasa inggris, belanda, jerman, jepang, korea, mandarin, belanda, dll.

 

20170909_092826

Tahun lalu aku dan mas favoritku menghabiskan berjam-jam mengacak-acak kios ini dengan bahagia hahaha. Karena itulah aku nggak begitu nyimak apa yang ada di kios lain tongue—aku sudah fokus pengen berburu buku bekas di sini hahaha. Selain harganya terbilang murah, kamu juga bisa menemukan buku yang nggak terduga alias langka loh!

Namun sayang sekali aku ngga melihat buku yang aku idamkan—entah memang nggak ada atau dia berada di tumpukan antah berantah. Akhirnya aku beli bukunya Sense and Sensibility – Jane Austen dan 1984 – George Orwell. happy

Selain beli buku bekas, aku juga mampir di kiosnya Erlangga yang jual notes lucu-lucu! Sayang sekali nggak kufoto hehe. Aku beli note kecil imut deh, niatnya sih mau dipakai buat nulis ide-ide dadakan (makanya beli yang kecil biar bisa dikantongin).

20170909_141932

Kawaii-desu!

Sebenarnya sih hati menjerit pengen beli note seukuran buku tulis yang kelihatan kece banget dengan suasana navy dan gambar whale hiksboohoo crazy rabbitNanti sajalah aku beli online kalau ada acis!

Sehabis itu aku cari buku buat keponakanku si Athar alias Prima Jr. Saat lagi nyari sana-sini buku yang cocok buat batita, aku nyasar di kiosnya Bestari yang serba pink dan ungu. 20170908_125701Dari foto keliatan jelas barang-barang yang dia jual diperuntukkan untuk anak sholeh… atau sholehah ya?

“Stik, menurut lu ini tempat jualannya buat anak cewek doang atau buat anak cowok juga?”

“Masa anak cewek doang? Coba deh gue tanyain mbaknya.”

(Brb aku ngumpet karena feeling mengatakan ini kios milik feminist silly)

“Mbak, ini barangnya buat anak cewek-cowok kan ya?”

“Nggak mbak, di sini khusus buat anak perempuan 🙂 (stating the obvious).”

NGAKAK ASLI HAHAHAHAHAHAHAH laughing rolling on the floor sudah kuduga sih habis warnanya tu loooh… masa cowok dikasih janda pinky?

Pada akhirnya sih aku beli buku hardcover murah di kios Tiga Serangkai buat dek Athar. Lucu kan? kiss20170909_092809

Finally kita buru-buru pulang karena sudah 4.30 (kita terlalu lama keasikan di kiosnya Sabanadrooling). Setelah nanya ke satpam dan bapak-bapak yang tampaknya salah satu exhibitor, kita memutuskan untuk pulang melalui Stasiun Sudirman guna menghindari macet.

Well, anehnya nggak ada satu pun orang di halte yang tau persis arah ke Stasiun Sudirman. Pokoknya setiap orang memberikan kesaksian eh jawaban yang berbeda dan membingungkan deh (termasuk petugas TJ!). Yaudah akhirnya kita kembali lewat jalur saat berangkat deh. straight face

Daaannn kalian tau apa? Macetnya lebih parah daripada tadi pagi! Mungkin karena ini hari Jumat jadi massa yang pulang lebih banyak. Ini rasanya jauhhh lebih menyiksa sebab kita nggak kebagian duduk sementara sebelumnya kita sudah berjam-jam mondar-mandir dalam JCC hampir tanpa duduk (ya emang nggak disediakan kursi juga sih buat pengunjung). Dan kali ini busnya mayan packed—sudah kayak di kereta aja hiks. bad luck crazy rabbit

Akhirnya kita sampai di Stasiun Cawang setelah dua jam mabok di bus sleepy—sampai sekitar jam 6.30. Habis sholat perjalanan pun kita lanjutkan setelah beberapa kali merelakan kereta yang lewat, berharap yang berikutnya agak sedikit lowong buat kami berdua. Tapi karena dah malam banget yaudah deh kita paksain aja naik di gerbong campur—beradu badan dan peluh dengan bapak-bapak dan mas-mas yang habis pulang kerja hahahahah crying. Aku meneruskan naik grab dan sampai di rumah jam 9 kurang, sementara temanku sampai di rumahnya jam 10—ditambah omelan emak bapaknya yes sir crazy rabbit. Badanku rasanya sakit semua deh sampai besok harinya whew! .

Overall, jujur aku kurang menikmati acara IIBF tahun ini. Sebab waktuku banyak terbuang di jalanan yang macet, lalu rasanya tahun ini acaranya nggak semeriah tahun kemarin (apa karena perginya nggak sama mas favorit? Hehe peace Stik! big grin) sehingga kurang berkesan gitu jadinya.

20170908_131556

Noh sepi banget gaesss. Mungkin karena hari Jumat juga sihh

Kalau kata Stik sih mungkin incomenya mengalami penurunan makanya tahun ini nggak bergairah nih para exhibitornya. Kupikir sih ini bisa jadi cerminan kalau minat baca masyarakat kita memang masih rendah—makanya terbilang sedikit yang mampir. Nah, kalau menurutmu gimana guys gurls? Apa tahun depan kalian tertarik buat datang ke sini?

Keterangan harga:

  • 1984 – George Orwell : Rp 50.000
  • Sense and Sensibility – Jane Austen : Rp 50.0000
  • Buku notes kecil cats and unicorn : Rp 20.000
  • Pak Jago Tidak Berkokok – Penerbit Tiga Serangkai : Rp 13.000
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s