Review: A Lover’s Discourse: Fragments

PicsArt_04-02-03.09.14Okay, the truth is I haven’t even finished this book yet (baru 150-an dari total 241 halaman). Namun, aku sudah nggak sabar untuk share pengalamanku membaca buku ini. Lagipula aku khawatir kalau ditunda lagi malah keburu hilang feel-nya. sad

For your info I’ve been struggling to finish this book alongside Cosmos (Carl Sagan) for months! Keduanya adalah buku yang tergolong sulit for sure. Bayangkan aja aku ngebut baca Cosmos yang berbahasa Indonesia tapi tebalnya 400-an halaman (jangan lupa ini buku nonfiksi ilmiah!) bersama A Lover’s Discourse yang berbahasa Inggris dan ‘rumit’ (meski cuma 200-an halaman). Padahal aku udah sok gitu di Goodreads ikut Reading Challenge mau menuhi 20 buku tahun ini. Tampaknya sudah 3 bulan lebih waktuku habis cuma buat baca dua buku tersebut hahaha rolling on the floor

Sudah lama aku gregetan kepengen baca A Lover’s Discourse: Fragments karya Roland Barthes ini. Siapakah Roland Barthes? Menurut Wikipedia, doi adalah French literary theorist, philosopher, linguist, critic, and semiotician (why there are so many modern linguist/theorist/philosopher from France? thinking). Aku lupa pertama tahu buku ini dari mana, sepertinya sih dari suggestion di Goodreads deh. Aku lihat buku ini punya rating tinggi, user review yang bagus, juga background tulisan yang menarik. Pada saat itu aku sedang tertarik baca buku yang membahas tentang cinta, tapi bukan cinta versi teenlit dan chiclit (aku kurang doyan juga lagian laughing). Itulah sebabnya aku semangat banget pergi ke IIBF 2016 kemarin untuk mencari buku keluaran tahun 1978 ini… Sayangnya nggak ketemu meski mas favoritku sudah ngacak-ngacak buku import di stand orang hahaha. At last aku baca pdf-nya yang berbahasa inggris deh (bahkan ebook gratisan pun nggak nemu di internet!). Continue reading

Advertisements