Review: Dunia Kafka (Kafka on The Shore)

Yeeeeeeay! Akhirnya aku berhasil menyelesaikan buku Kafka on The Shore setelah berjuang selama enam hari!pheew crazy rabbit

kafka_on_the_shore

dari Google

Kafka on The Shore adalah buku karangan Haruki Murakami, seorang penulis yang namanya baru kuketahui setahun belakangan ini. Sebelumnya aku tidak tahu kalau beliau terkenal banget di kancah internasional sebagai penulis Jepang kontemporer yang punya pengaruh besar di era modern. Malah sepertinya Murakami-sensei punya fan base yang besar (dan maniak), serta sering dianggap sebagai genre tersendiri (misalkan: wah buku ini Murakami banget!). Berdasarkan komentar di internet, aku mendapati bahwa Murakami adalah penulis yang kental dengan unsur surealis. Aku yang saat itu sedang tergila-gila dengan tulisan Seno Gumira Ajidarma jadi ngiler juga kepengen baca buku Murakami-sensei.

Sayangnya saat itu buku Murakami-sensei sedang tidak ada di peredaran. Pada akhirnya sih aku beli (ditraktir) Kafka on The Shore sewaktu kemarin ke acara IIBF di JCC. Tadinya sih kepengen beli 1Q84… tapi tebal banget mana trilogi pulak (aku lagi nggak mood sama novel yang terlalu panjang).

20161016_150129

Okay, back to the main topic.

Jadi, Kafka on The Shore dikisahkan melalui dua plot. Plot yang pertama bercerita tentang Kafka Tamura dari sudut pandang orang pertama pelaku utama. Kafka merupakan bocah lelaki berusia 15 tahun yang kabur dari rumah—kabur dari bapaknya—kabur dari kutukan bapaknya to be precise. Kafka pun kemudian menemukan kedamaian di sebuah ‘tempat penampungan’ tersembunyi berupa perpustakaan pribadi milik keluarga hartawan setempat. Plot yang kedua bercerita tentang Satoru Nakata dari sudut pandang orang ketiga serba tahu. Nakata adalah kakek tua yang cacat sejak mengalami ‘kecelakaan’ semasa dia kecil. Meski begitu, sejak kecelakaan tersebut beliau mempunyai kemampuan berbicara dengan kucing! Bekerja paruh waktu sebagai pencari kucing hilang, Nakata terlibat dalam pembunuhan seorang lelaki aneh demi menyelamatkan seekor kucing. Kedua plot ini memang berdiri sendiri, tetapi unsur-unsur dalam keduanya saling terhubung. Kedua tokoh terhubung dalam alam metafisik juga dalam realita yang sebenarnya. confused

Buku ini… rasanya padat betul. Banyak hal yang diangkat dalam buku ini: nasib, cinta, identitas diri, pergulatan batin, dll dll. Memang pada awalnya Kafka on The Shore tampak seperti buku drama kehidupan biasa yang berbau urban modern—sebab diawali kisah bocah rebel kabur dari rumah. Lama-kelamaan cerita terasa berat karena sepertinya Murakami-sensei senang menuliskan influence penulisan buku/hidupnya dalam cerita. Dalam buku ini tau-tau kamu akan mendapati para tokohnya asyik bicara soal Hitler dan Beethoven, juga mengutip kalimat-kalimat para filsuf kenamaan yang sulit dicerna (meski sudah mikir keras)—hal yang membuat buku ini agak membosankan dan bikin kepengen nyerah aja. boring crazy rabbit

Cerita semakin berat tatkala Murakami mengaburkan kehidupan sehari-hari yang normal dengan kejadian-kejadian di luar nalar—metafora-metafora yang menjadi ciri khas Murakami. Secara keseluruhan buku ini membuat(ku) berpikir tentang makhluk extraterrestrial, dunia tak kasat mata, kematian, takdir—tentang kekuatan absolut yang berada di luar kuasa kita. Intinya sih lumayan bikin merinding, meski bukan merinding kayak baca Stephen King atau Agatha Christie (padahal mah aku belum baca buku mereka laughing).

Yang lumayan menggangguku sih banyaknya adegan seks vulgar yang… kayaknya beberapa nggak perlu amat juga deh dihadirkan. Banyak penggambaran sensual yang terasa dipaksakan masuk ke dalam cerita. Ini membuatku berpikir kalau seks barangkali memang jadi salah satu jualan Murakami dalam tulisannya. Lebih mengganggu lagi karena adegan yang terjadi mostly adalah incest! Ew. Tetap mengejutkanku meski sinopsis buku sudah menyebutkan kalau Oedipus complex diangkat sebagai bunga cerita dalam buku ini. Damn.kill myself crazy rabbit

Oh iya, ada beberapa hal unik yang kusoroti dari tulisan Murakami di Kafka on The Shore.

1. Murakami seperti bukan orang Jepang. Beliau menuliskan mata uang dalam dollar bukannya yen. Adanya pemahaman bahwa selera, gaya hidup, bahkan cara berpikirnya heavily influenced by non-Japan (Western) culture. Misalkan saja Kafka yang suka dengerin lagu Radiohead dan Prince, merk-merk, film, penulis, music klasik, juga filsuf luar negeri yang kerap Murakami tuliskan dalam cerita. Nama Kafka sendiri jelas diambil dari penulis kenamaan Franz Kafka.

2. Masih lanjutan poin nomor satu, ada beberapa hal yang mengingatkanku pada dua buah film Hollywood—bisa jadi kebetulan semata sih.

Pertama yaitu bahwa Kafka punya alter ego bernama bocah gagak yang sesekali muncul menyuarakan isi hatinya atau memberi arahan (baca: memerintah)—mengingatkanku pada film Birdman yang protagonisnya juga punya alter-ego berupa… birdman tentu saja.nah crazy rabbit

Yang kedua yakni adanya adegan hujan tak wajar (hujan ikan, misalnya). Adegan ini juga terdapat dalam film Magnolia di mana terjadi hujan kodok di akhir cerita yang secara subjektif kuartikan sebagai metafora dari ‘kun faya kun’—if it has to be (happen), be it!

Konsep yang mendasari cerita Kafka on The Shore yakni jalinan realita dan alam metafisik yang saling terhubung. Pada akhir cerita, rasanya tiada lagi batas di antara keduanya. Meski Murakami berhasil membuat kedua plot saling berkesinambungan, tak ada conclusion yang jelas mengenai apa yang sesungguhnya terjadi—bagaimana semua itu terjadi. Mungkin Kafka on The Shore memang dirancang sebagai cerita yang open for interpretation. Mungkin juga sebenarnya buku ini memiliki kesimpulan yang pasti dan rinci, hanya saja aku belum pandai mencerna metafora yang tiada habisnya disajikan whew!Ada yang bilang sih kunci dalam membaca buku ini yakni: ide bahwa roh dan tubuh merupakan satu kesatuan, juga sebagai bagian yang terpisah dan mandiri.

Over all, buku ini merupakan penyegaran baru bagiku. It’s funny, thrilling, intriguing, and sexy (baca: wild, if you know what I mean batting eyelashes). Entah apa sebenarnya genre buku ini—terasa seperti campuran thriller, fantasy, sastra, surrealism… ah aku nggak tau mana yang betul. But I’m looking forward to read another Murakami’s work. big hug

Akhir kata, this is definitely not a book for those who hate abstract concepts. big grin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s