Kisah Sedih di SMA

Pada suatu hari iseng-iseng  aku buka-buka tulisan lamaku dan menemukan sebuah kisah dari masa lalu. Ini adalah kisah kelam ketika aku masih SMA. Sudah lama sebenarnya aku melupakan cerita ini. Namun sekali ini aku akan menceritakannya ulang demi kemakmuran semua orang. Hendaknya dipetik pelajaran dari kisah ini dan semoga kejadian ini tidak menimpa orang lain. sad

Kisah ini diawali pada hari Senin, 291110

Dulu aku punya guru Sosiologi yang aku sebut Si Males.

Kenapa aku sebut dia Si Males? Karena setiap ngajar omongannya pasti ngalor ngidul ke mana tau. Kalau nggak curhat ya dia ngerecokin anak di kelas yang sering menjadi sasaran dia (dengan nyolot pula). Terus setiap dia habis ngelawak (yang lebih sering fail), dia akan bersandar pada salah satu meja dan ngeluh macam begini, ”Ibu capek ih.” Atau, ”Ibu ngantuk ih.” lalu dia akan menutupi keluhan tersebut dengan curhatan panjang. image

Enak nggak enak sih sama guru ini. Enaknya, kamu bisa ngegambar, ngerjain PR, atau baca komik di pelajaran dia. Tapi aku saranin sih jangan ngobrol pas pelajarannya karena kamu akan dibuat seperti orang tolol saat dia ngerecokin kamu!

Lalu pada suatu Senin yang indah, kelasku dikasih tugas berjudul ‘Mencari Mr. X dan Mrs. Y.
Kebalik? Kacau bahasa Inggrisnya? Kamu tau ini tugas apa?

Kalau kamu anak sekolah aku, kamu bakal dicerca sama anak sesekolahan kalau nggak tau. Tugas ini legendaris banget, tiap tahun selalu ada untuk anak kelas 10. Menurut aku, tugas ini sangat mengandalkan faktor luck karena nasib kita sepenuhnya berada di tangan Si Males yang milihin nama dari daftar absen. In the palm of God’s hand gitu deh (iya, God-nya ya si Males sigh ).

Jadi begini sistemnya:
1. Si Males bakal ngasih kamu nama kakak kelas secara random. Bisa anak kelas 11, 12, IPA, IPS. Bisa anak gaul, basis sekolahan, cupu, ganteng, cantik, baik, sok senior, ter-bully, dll dll. Yang cewek dapet nama cowok dan juga sebaliknya. Bener-bener cuma dikasih namanya doang. Kamu harus nyari tau sendiri dia anak kelas mana.

2. Kalau udah dapet namanya, kamu harus nyamperin orang tersebut di kelasnya. Nggak sekedar nyamperin, kamu harus dapat identitas dirinya yang berupa: nama panjang, nama panggilan, nama ortu, pekerjaan ortu, alamat dia dan alamat ortu, nomor HP, nomor telepon rumah, cita-cita, TTL. Ohya, jangan lupa foto si kakak XY ukuran 4×6.

3. Ngerasa nggak sih udah kayak mau pedekate aja? Tapi tiada ampun buat tugas ini. Kalau identitasnya nggak lengkap atau isinya asal-asalan, kamu harus ngulang tugasnya dari awal. Begitu juga kalau misal Si Males nanya ke si kakak XY kayak gini,

”Kamu kenal nggak sama yang namanya Titik-titik?”

”Hah? Siapa tuh? Nggak kenal, Bu!”

Menangislah kamu karena bakal disuruh ngulang tugas, walaupun si kakak cuma nge-joke! Which means kamu benar-benar harus berinteraksi sama kakak XY supaya doi ingat sama kamu.

Aku hari itu tuh biasa aja sih. Diem-diem seneng juga sama ini tugas. Barangkali gitu berkat tugas Si Males aku bakal dipertemukan sama kakak kelas ganteng yang baik hati dan mencintai aku semampunya… Kayak yang suka ada di sinetron /novel teenlit/manga shoujo gitu. image

paling nggak yang kayak gini... standar lah

paling nggak yang kayak gini… standar lah (dari google.com)

Tapi itu tentu aja impossible! Di sekolah aja yang ganteng langka gitu, gimana ceritanya bisa kejadian coba? Emangnya aku sekolah di dalem telenovela apa…

Lagipula ternyata aku sedang sial hari itu. Aku sudah bisa menduga itu saat Si Males menyebut nama Mr. X aku. Aku terkesiap.

”********, Lotilac.”

Ya ampun, demi apa pun nama dia sungguh memprihatinkan (aku bicara ini secara HARFIAH)… Aku belum pernah dengar nama yang lebih sedih dari orang ini. Dari namanya aja aku langsung bisa membayangkan dia adalah orang yang terpojokkan di kelas. Cupu, tampang pas-pasan, dan selalu jadi korban kejahatan di kelasnya. Dan kayaknya aku udah nggak asing lagi sama nama dia. Kayaknya sih anak 11 IPS.

Nggak lama kemudian, temanku datang bawa absen semua kelas yang langsung dikerubungi anak-anak. Benar aja tuh, dia anak 11 IPS.

Maka beberapa hari kemudian dengan bermodalkan secuil keberanian, aku pun pergi ke kelas 11 IPS bersama temanku, Si Tampan yang Jangkung karena kebetulan target dia juga ada di kelas 11 IPS. Saat itu jam istirahat, jadi kelas 11 IPS ramai oleh penghuninya. Temanku langsung nanya kakak kelas yang ada di depan kelas IPS.

“Kak, mau ketemu sama yang namanya bla bla bla.”

“Oh, dia sih lagi nggak ada di kelas tuh.”

Dan kamu tau apa? Begitu tau target yang dicari nggak ada, Si Tampan yang Jangkung itu langsung ngilang ninggalin aku! Sialan! Ternyata keberaniannya berbanding terbalik dengan postur tubuhnya yang menyamai galah! angry

Maka aku pun masuk kelas 11 IPS sendirian dengan hati digebuk kencang. Aku celingak-celinguk kebingungan. Seorang cewek menghampiriku dan bertanya ramah, “Nyari siapa, Dek?”

Saat itu tanpa sadar aku sudah digiring ke tengah-tengah depan kelas sama cewek itu. Penghuninya yang sedang asik-asik sendiri mulai memerhatikanku dengan muka penasaran, mendadak sunyi senyap menunggu aku bicara. Aku jadi semakin ketakutan.

“Mmmm… Mau ketemu sama yang namanya ********.”

Dalam sepersekian detik, kelas tiba tiba gegap gempita kayak malam tahun baru; semua cowok berloncatan kayak monyet; semua cewek kegirangan centil; semuanya riuh menyorakiku. Salah satu dari mereka menunjuk meja di pojok paling kiri. Di sana lah aku melihat sesosok menyedihkan yang sedang duduk bersama cowok putih berkacamata. Seseorang menggiringku menuju mereka (kok lama-lama berasa kayak domba gembala ya?).

Kedua cowok itu saling mengelak, tapi akhirnya Si Sedih mengakui bahwa dia lah orang yang bernama ********. Walaupun sosoknya begitu menyedihkan, aku cukup lega karena transaksiku dengan Si Sedih berjalan sangat lancar. Dia nggak minta macam-macam seperti minta ditraktir jajan atau ngejailin aku gitu, walaupun selama dia ngisi data yang dibutuhkan, teman-temannya nggak berhenti ngegodain aku dari belakang. Oh God, mereka menganggap aku ini seperti jodoh yang dikirimkan Tuhan untuk Si Sedih atau apa sih? phbbbbt

Setelah semua achievement tercapai, aku pun mengucapkan terima kasih (dengan tangan gemetaran) dan cepat-cepat minggat ke pintu keluar. Masih dengan hati dan pikiran nggak karuan, aku mencoba mendorong pintu kaca yang sebelah kiri… Tapi kok nggak bergerak ya pintunya? Aku tarik dengan paksa, masih nggak bergeming juga!

Sumpah aku benar-benar bingung di situ. Mana waktu istirahat udah mau habis pula, aku nggak rela terjebak di sana selamanya! Lama aku dorong-tarik pintu itu sampai kemudian ada seorang cowok yang mendorong pintu kaca sebelah kanan dari luar kelas. Cowok itu (yang kebetulan bertampang lumayan) masuk ke dalam, lalu menatapku sambil tersenyum manis. hypnotized

nggak semanis aa JGL sih

nggak semanis aa JGL sih (http://www.conversationsabouther.net/)

Jadi… Hari itu aku nggak cuma apes diceng-cengin sama anak-anak 11 IPS. Ternyata aku juga salah pintu. Kurang apes apa aku hari itu. Bunuh sajalah aku sekarang juga. image

Begitulah kisah kelam ketika aku masih junior di SMA. Apakah ada yang punya pengalaman serupa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s